Ayah Bundaku Seperti Singa: Catatan Penyesalan Orang Tua Pemarah

Mengapa Banyak Orang Tua Pemarah Gampang Bentak Anak?
Ayah Bunda, jujur saja… dulu saya adalah seorang orang tua pemarah, cita-cita saya itu simpel banget. Saya ingin jadi pengusaha sukses supaya bisa mencapai financial freedom sebelum umur 40 tahun. Saya pikir, kalau uang sudah banyak, semua kebutuhan anak istri aman, dan kita tinggal jalan-jalan santai menikmati hidup.
Tapi nyatanya? Hidup saya malah seperti lomba maraton yang tidak ada garis finish-nya.
Saya pergi sebelum subuh saat anak-anak belum bangun, dan pulang larut malam ketika mereka sudah tidur pulas. Bukannya jadi pahlawan keluarga, saya malah menjelma jadi ayah yang egois dan gampang meledak seperti singa jantan.
Ketika anak menangis, bukannya dipeluk, malah saya bentak dan saya kunci di kamar mandi. Saat istri ngajak diskusi baik-baik, saya balas dengan banting pintu dan meninju tembok.
Puncaknya, bisnis saya terjun bebas dan hancur lebur. Kami terpaksa pindah kota dan tinggal di sebuah kontrakan jadul yang bahkan sempat disebut anak saya sebagai ‘rumah hantu’.
Titik Balik Menemukan ‘Luka Masa Lalu’
Di titik terendah itulah, saya akhirnya memberanikan diri mengikuti sebuah kelas self-healing. Di sana, pertahanan emosi saya runtuh. Saya menangis sejadi-jadinya selama hampir satu jam.
Ternyata, yang menangis saat itu bukanlah sosok saya yang dewasa, melainkan inner child saya yang terluka dan terabaikan di masa lalu.
Sejak luka batin itu pelan-pelan disembuhkan, sebuah keajaiban terjadi. Suasana rumah tangga kembali hangat, anak-anak tidak lagi takut, dan pintu-pintu rezeki yang tadinya tersumbat tiba-tiba terbuka kembali.
Mari Bereskan Sampah Emosinya
Ayah Bunda, jangan sampai ambisi kita di luar sana justru menghancurkan pondasi paling berharga di dalam rumah.
Jika hari ini Ayah Bunda sering merasa overthinking, lelah batin, gampang emosi, atau merasa bersalah setelah membentak anak… yuk, kita bereskan ‘sampah emosinya’ bersama-sama.
Mari kita bermetamorfosis menyembuhkan diri. Kita ubah luka masa lalu menjadi tenaga positif untuk membahagiakan keluarga dan membantu sesama.

